Tampilkan postingan dengan label Kerabat Sejati bukan Diukur Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerabat Sejati bukan Diukur Materi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 April 2015

Hari Istimewa Hari Kebangkitan Itu Pasti









Hari Istimewa Hari Kebangkitan Itu Pasti

















Paket Umroh Bulan Ramadhan 2015 ,Sebenarnya di antara ajaran Rasullulloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yg ditentang dengan mayoritas rakyat Jahiliyah merupakan tentang kebangkitan dari kubur. Mereka menganggap mustahil orang hidup lagi sesudah tubuhnya hancur kemudian melebur dengan tanah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan hal diatas dalam firmanNya, yg maksudnya: “Lalu jika (ada sesuatu) yg kamu herankan, jadi yg wajib mengherankan adalah ucapan mereka, ‘Apabila kami telah jadi tanah, apa-kah kami sebetulnya akan (dikembalikan) jadi makhluk yg baru?’ Orang-orang itulah yg kafir pada Tuhannya; kemudian orang-orang itulah (yg dilekatkan) belenggu di leher-nya; mereka itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS: Ar-Ra’d: 5). (Lihat juga; Al-Mu’minun: 82-83; Qaaf: 3; As-Sajdah: 10)

Al-Qur’an telah meyakinkan hadirnya ba’ts (kebangkitan) beserta sanggahan atas orang-orang yg mengingkarinya dgn metode yg hebat kemudian jitu, hingga memaksa nalar sehat tuk menerimanya kemudian tunduk kepadanya. Pada umumnya metode itu bisa disaksikan, diindera dan difahami oleh akal secara nyata.















Paling tidak, di dalam Al-Qur’an ada empat macam metode pembuktian adanya kebangkitan.














Paket Umroh Ramadhan 2015
Metode Pertama:
Ber-istidlal (pembuktian) dgn penciptaan langit kemudian bumi serta benda-benda yg agung yg jadi saksi atas kesempurnaan ciptaan Alloh Subhanahu wa Ta’ala serta bukti atas kekuasaan Alloh Subhanahu wa Ta’ala yg absolut; sebuah perkara yg mengharuskan ke-Mahakuasaan Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas perkara yg lebih kecil dari itu. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menerangkan hal ini, yg maksudnya: “Dan apa mereka tdk memperhatikan bahwasanya Alloh yg menciptakan langit kemudian bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yg serupa dgn mereka, dan telah menetapkan waktu yg terpilih bagi mereka yg tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zhalim itu tdk menghendaki kecuali kekafiran.” (QS: Al-Isra': 99).















Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia



















Paket Umroh Bulan Ramadhan 2015 ,“Dan apa mereka tdk memperhatikan yakni senyatanya Alloh yg menciptakan langit kemudian bumi serta Dia tdk merasakan payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (malahan) sebenarnya Dia Mahakuasa atas segenap sesuatu.” (QS: Al-Ahqaf: 33).
“Sebetulnya penciptaan langit serta bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi pada umumnya orang tidak mengetahui.” (QS: Ghafir: 57).












Ber-istidlal 

















Paket Umroh Ramadhan 2015 ,Kemudian masih banyak lagi ayat-ayat yg menjelaskan tentang hal ini, semuanya menjelaskan yakni menciptakan orang dan membangkitkan sesudah mati merupakan lebih mudah serta lebih ringan daripada menciptakan makhluk-makhluk raksasa ini. Padahal keseluruhan itu kecil bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Metode Kedua:
Ber-istidlal akan munculnya ba’ts dgn penciptaan manusia perdana kali, oleh dikarenakan siapa saja yg dapat menciptakan orang persis bisa mengembalikannya tuk kedua kalinya. Kepastian sebagaimana ini berlimpah terdapat di dalam Al-Qur’an, layaknya firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yg maksudnya: “Hai manusia, jika anda di dalam kesangsian mengenai kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sebenarnya Kami sudah menyebabkan kalian dari tanah, lalu dari setetes mani, lalu dari segumpal darah, lalu dari segumpal daging yg sempurna kejadiannya serta yg tdk sempurna, biar Kami jelaskan pada anda serta Kami tetapkan di dalam rahim, apa yg Kami kehendaki hingga masa yg telah ditentukan, lalu Kami keluarkan kamu sebagai bayi, lalu (dengan berangsur-angsur) sampailah kamu pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yg diwafatkan serta (ada pula) di antara anda yg dipanjangkan usianya hingga pikun, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya sudah diketahuinya.” (QS: Al-Hajj: 5).
















Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan















 “Setelah itu Dialah yg menciptakan (manusia) dari permulaan, lalu memunculkan kembali (menghi-dupkan)-nya lagi, serta menghidupkan lagi itu ialah lebih enteng bagi-Nya. Serta bagiNyalah sifat yg Mahatinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yg Mahaperkasa pula Mahabijaksana.” (QS: Ar-Ruum: 27)
Pada ayat-ayat yg kami kemukakan di atas juga dalam ayat-ayat lain yg serupa terdapat teguran yg menggugah orang-orang yg ingkar agar hendak melihat serta merenungi dirinya sendiri; dari mana pertama kali ia diciptakan, juga biar merenungi masa-masa yg telah ia lewati tiap tahapan yg kerap bertentangan dgn yg sebelumnya. Maka, yg bisa mengadakan manusia –dari tidak ada– niscaya Dia tidak akan kesusahan mengembalikannya sekali lagi, kebalikannya hal itu lebih mudah dari menciptakannya pertama kali. Perbedaan ini bila diukur dgn akal dan kerutinan manusia. Sedangkan berdasarkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada sesuatu yg lebih mudah dari yang lain, semuanya gampang bagiNya.

















hari kebangkitan sesudah mati dengan menghidupkan bumi sesudah matinya
















Metode Ketiga:
Alloh Subhanahu wa Ta’ala menegakkan dalil hadirnya hari kebangkitan sesudah mati dgn menghidupkan bumi sesudah matinya, misalnya yg terdapat di dalam ayat, yg artinya: “Dan Dialah yg meniupkan angin selaku pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmatNya (hujan), hingga bilamana angin itu telah membawa awan, Kami halau ke suatu kawasan yg tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dgn sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan, semacam itulah Kami membangkitkan orang-orang mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS: Al-A’raf: 57). (Lihat juga Al-Hajj: 5; Az-Zukhruf: 11)

Rabu, 11 Maret 2015

Kerabat Sejati bukan Diukur Materi



Kerabat Sejati bukan Diukur Materi



Umroh Bulan Ramadhan 2015 ,Makkah mulanya adalah kota kecil yang sejak dulu dikenal sebagai kota transit perdagangan. Penduduknya dikenal sangat piawai berbisnis. Dari sini lahir sebagian konglomerat multinasional di zamannya. Berhubungan dengan sukses usaha mereka, Alloh Azza wa Jalla telah mencatatnya dalam al-Qur’an, “Dikarenakan kebiasaan orang-orang Qurasy, (yaitu) kerutinan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS. Al-Quraisy: 1-2)
Ada beberapa konglomerat yang sangat dikenal pada saat itu. Satu di antaranya ialah Khadijah, pasangan hidup Rasululloh shallallahu alaihi wasalam sendiri. Modal Khadijah membengkak berlipat-ganda sesudah perusahaannya dimanajeri oleh Pemuda Muhammad. Hasilnya kedua insan itu menikah. Lalu jadilah suami-istri ini dikenal luas sebagai pedagang yang sukses.

Selain Khadijah, ada lagi konglomerat sukses bernama Uqbah bin Abi Mu’ith. Ia dikenal sebagai pengusaha multinasional. Pada musim panas, ia berdagang ke negara-negara di sebelah utara (Syam). Sedangkan pada musim dingin, ia berdagang di negara-negara selatan (Yaman).

Menjadi bisnisman, Uqbah menjalin hubungan yg akrab dengan semua kolega dan relasinya. Untuk itu ia tak segan-segan untuk mengeluarkan biaya dari sakunya sendiri. Kadang mentraktir makan teman bisnisnya, tak jarang membawa makan-makan dalam acara tasyakuran. Dalam acara ini biasanya ia mengundang para tokoh masyarakat, baik dari kalangan pengusaha maupun tokoh berpengaruh lainnya.

Dalam suatu perjamuan makan


Dalam suatu perjamuan makan, Uqbah membawa Rasululloh shallAllohu alaihi wasalam sendiri di dalam kapasitasnya sebagai tokoh rakyat yg berpengaruh. Harapan ini dimanfaatkan Rasululloh shallAllohu alaihi wasalam sendiri  tuk berdakwah. Ketika hidangan telah tersedia, Rasululloh shallAllohu alaihi wasalam sendiri  berkata, “Wahai Uqbah, aku tidak akan makan hidangan anda sampai anda bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh, dan saya adalah Rasul-Nya.” Secara spontan Uqbah menyanggupinya, dan tak lama kemudian ia mengucapkan dua kalimah syahadah di hadapan orang banyak. Uqbah telah masuk Islam. Umroh Bulan ramadhan 2015

Resminya Uqbah masuk Agama islam



Mengetahui keislaman Uqbah ini, teman-teman bisnisnya banyak yang terkejut. Salah satu di antaranya adalah Ubay bin Khalaf. Ia menanyakan kebenaran berita itu. Ia berkata, “Kamu sudah rusak, hai Uqbah.”

Apa jawab Uqbah? “Demi Alloh, aku tidak rusak. Aku lakukan hal itu karena pada perjamuan makan itu ada seorang tamu. Ia tidak mau menyentuh makananku sebelum aku bersaksi di hadapannya. Aku malu jika ada tamu yang pergi dari dari rumahku sementara ia belum memakan hidanganku.”

Memahami sikap koleganya seperti ini, Ubay malah memanfaatkan situasi. Ia katakan kepada Uqbah, “Aku tidak rela. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan perdagangan ini denganmu sampai kamu menyatakan keluar dari agama Muhammad. Nyatakan hal itu di hadapannya. Caci maki dia di hadapan orang banyak. Satu lagi, ludahi wajahnya.”

Uqbah terkejut. Ia tidak menyangka jika kesaksiannya di hadapan Muhammad akan berakibat fatal seperti ini. Sebagai pebisnis tulen, ia hanya mau tahu keuntungan. Dalam kepalanya, semua kegiatannya dihitung berdasarkan untung rugi. Ia rela mengeluarkan biaya besar dalam acara tersebut tak lain bertujuan untuk menjalin relasi bisnis, yang ujung-ujungnya adalah laba bisnis. Rumus bisnis telah tertanam di kepalanya, yaitu mengeluarkan biaya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Orang semacam Uqbah ini pada dasarnya tidak mempunyai agama dan ideologi. Keuntungan itulah ideologinya. Ia tak pernah peduli apa agama yang dipeluk seseorang. Yang penting baginya adalah bisnisnya aman. Siapa saja yang bisa diajak bisnis dan menguntungkan, diajaknya berteman. Saudara dekatnya sendiri jika tidak bisa diajak bisnis tak akan diajak berteman. Dalam menjalin relasi ia tak peduli apakah seorang Nasrani, Yahudi, Majusi, atau Islam.

Setelah menghitung untung-ruginya secara mantap, atas desakan Ubay, akhirnya ia menemui Rasululloh shallallahu alaihi wasalam. Di hadapan Rasululloh shallallahu alaihi wasalam sendiri ia menyatakan keluar dari Islam. Iapun mencaci-maki dan tak lupa meludahi wajah beliau yang suci. Atas perlakuan ini Rasululloh shallallahu alaihi wasalam bersabda, yang artinya: “Kelak engkau akan keluar dari Makkah dari bukit sebelah itu, dan aku akan menyambutmu dari bukit sebelah itu. Pada saat itu engkau menyesali perbuatanmu.” Dalam riwayat yang lain, ludahnya kembali ke wajahnya dan membakar pipinya. Luka bakar pipinya itu tak pernah sembuh sampai dibawa ke liang kuburnya.

Apa yang dikatakan Rasulullohshallallahu alaihi wasalam sendiri semuanya benar. Uqbah keluar dari Makkah, ikut perang Uhud. Dalam peperangan itu ia tertawan. Tangannya terbelenggu dan lehernya dipancung. Ia menyesal atas perlakuannya yang lebih memilih kawan bisnis daripada kawan yang sebenarnya. Agar peristiwa ini dijadikan ibrah dan pelajaran yang berharga bagi kaum muslimin, maka Alloh Azza wa Jalla mengabadikannya dalam sebuah firman-Nya, yang artinya: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an setelah al-Qur’an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah syetan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqaan: 27-28)

Sejarah memang terus berulang. Apa yang terjadi saat ini sesungguhnya merupakan pengulangan sejarah masa lalu. Isi dunia dari dahulu hinga sekarang tetap, tidak mengalami perubahan. Yang tentu di dunia ini selalu ada dua hal yang berpasangan. Ada baik, ada buruk. Ada orang yang berwatak dan berakhlaq mulia, dan ada pula yang berwatak jahat. Itulah isi dunia.

Empat belas abad yang lampau sudah ada orang yang bernama Uqbah, yang ideologinya uang. Pada masa kini, prinsip Uqbah sudah beranak bercucu. Jumlahnya meningkat karena mendapatkan proses perkembangbiakan yang luar biasa.

Di saat materi menjadi isme, ajaran, dogma, dan harga yang dijadikan sebagai alat ukur dan barometer keberhasilan seseorang, maka meteri menjadi sentral kehidupan. Secara berkelakar sempat seorang pakar dalam sebuah diskusi yang diliput 4 televisi swasta mengatakan, “Untuk sukses saat ini diperlukan 4 hal, yaitu: Satu, duit. Dua, uang. Tiga, fulus. Empat, money.”

Orang tidak lagi mengenal tetangga rumahnya, sebab persahabatan di lingkungan sekarang, utamanya di kota-kota besar hanya didasarkan pada uang. Teman, kenalan, sahabat bukan di rumah, tapi di kantor, di pasar, di gedung-gedung bertingkat.

Suatu ketika ada seorang meninggal dunia. Para tetangganya kurang tahu. Kendatipun yang ikut merawat dan memakamkannya banyak, tapi keseluruhan adalah kolega kerjanya. Begitulah gambaran pergaulan manusia sekarang. Bila ada yang sakit, yang datang menjenguk bukan tetangga dekatnya, bukan pula saudaranya yang karena sibuk mencari uang mereka terpencar entah di mana. Yang datang menjenguk lagi-lagi adalah teman sekantor, teman sekerja, kolega usaha, paling jauh anggota jama’ahnya, itupun kalau ada.

Pertemanan yang didasarkan atas kepentingan ekonomi sesungguhnya boleh-boleh saja. Rasululloh shallallahu alaihi wasalam tidak melarangnya. Akan tetapi jika pertemanan ini harus mengorbankan aqidah, syari’ah dan akhlaq, maka sebaiknya dihindari saja. Pertemanan semacam ini hanya membawa manusia kepada kebinasaan, kehancuran, dan kehinaan di sisi Alloh Azza wa Jalla. Tentang masalah pertemanan ini Alloh Azza wa Jalla telah memberi bimbingan kepada kita melalui firman-Nya, yang artinya: “Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Kita dibebaskan untuk memilih teman, koneksi, kolega, baik secara pribadi-pribadi maupun secara institusi. Tapi satu hal yang pasti, hendaknya kita lebih memilih teman dan sahabat yang sejati, yang selalu mengajak kita menghadapkan wajah dan pikiran kepada Alloh Azza wa Jalla.

Boleh jadi berteman dengan mereka tidak mendatangkan keuntungan materi yang bisa dinikmati dalam jangka pendek, tapi bersama mereka kita akan meraih keuntungan besar dalam jangka panjang. Wallahu A’lam. Umroh Bulan Ramadhan2015